Adab dalam membaca Al Qur’an Al Karim

Seorang muslim senantiasa berhias dengan adab dan akhlaq yang mulia dalam semua sisi dalam kehidupannya karena adab dan kemulian akhlaq merupakan suatu pemberian yang tiada ternilai yang Allah ta’aala anugrahkan kepada seorang hamba. Dengan akhlaq yang mulia inilah Allah sifatkan nabiNya dalam firman Nya:

و إنك لعلى خلق عظيم

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al Qolam : 4 )

ini merupakan pujian yang tinggi yang Allah sematkan kepada NabiNya yang mulia ‘alaihis sholatu wassalam, dimana beliau seorang yang memiliki adab dan akhlaq yang agung sebagaimana juga yang disifatkan istrinya yang tercinta ibunda kaum mukminin ‘Aisyah rodiallahu ‘anha , ketika menggambarkan bagaimana akhlaq beliau : “adalah Rosulullah memiliki akhlaq Al Qur’an”

Oleh karena pentingnya perkara ini sudah selayaknya bagi setiap penghafal (Haafiz) Al Qur’an secara khusus dan umumnya kaum muslimin manakala berinteraksi dengan Al Qur’an baik membacanya , menghafalnya dan mentadabburi makna-maknanya untuk menjaga adab – adab yang mulia dan menghiasi dirinya dengan keindahan akhlaq yang terpuji.

Maka diantara sebagian dari adab dan akhlaq yang sepatutnya kita jaga ketika membaca Al Quran adalah :

  1. Wajib bagi setiap muslim ketika membaca Al Qur’an yang mulia untuk mengikhlaskan niatnya dan mengharapkan melihat keindahan wajah Allah azza wa jalla serta menjadikan amalan mulia ini sebagai sarana bertaqarub kepadaNya semata. Menjauhi segala bentuk riya dan sum’ah yang membuat amalannya sia – sia bahkan dapat menjerumuskan pelakunya kepada kebinasaan.
  2. Menjaga kesucian diri baik zohir maupun batin. Dengan berwudu seseorang berusaha menjaga kesucian lahiriah dari hadats kecil dan besar dan dengan meninggalkan maksiat dan dosa seseorang berupaya menjaga kebersihan batinnya.
  3. Membaca Al Qur’an dengan tadabbur yaitu memahami maknanya dan mengetahui isi kandungan  dari apa yang dibaca disertai hadirnya hati dengan kekhusyu’an dan menjauhi perkara dunia yang melalaikan dari bacaan Al Qur’an yang sedang dibaca atau disibukkan pendengaran dan pandangannya dari tilawah yang sedang di lakukannya.
  4. Berpakaian yang bersih, rapi dan baik serta menghadap kiblat jika mudah dan memungkinkan.
  5. Membersihkan mulit terlebih dahulu dengan siwak atau menggosok gigi.
  6. Tidak memutus tilawah atau bacaan Al Qur’an dengan sebab perkara-perkara keduniaan kecuali dalam hal yang sangat darurat.
  7. Menghadirkan keagungan Allah azza wa jalla saat membaca ayat ayat Al Qur’an dan bahwasannya Al Qur’an adalah kalamullah ta’aala dimana perintah dan laranganNya berasal dari Allah untuk hambaNya.
  8. Memilih waktu yang tepat dan sesuai dengan kondisi dan keadaan diri saat membaca Al Qur’an seperti waktu fajar atau di pertengahan malam , dimana fikiran dan hati dalam kedaan lembut dan bersih.
  9. Memohon perlindungan kepada Allah azza wa jalla dari gangguan syatihon dan tipu dayanya.
  10. Meninggalkan segala bentuk perbuatan dosa dan maksiat yang merupakan sebab terbesar terhalanginya keberkahan Al Qur’an dan sulitnya mentadabburi ayat-ayatnya.

 

Adab Seorang Pelajar Dan Pengamal Al-Qur’an Secara Khusus

  • Berdo’a kepada Allah dengan jujur dan ikhlash agar diberikan pertolongan untuk menghapal Al-Qur’an dan dengan tujuan hanya untuk mencari keridhaan Allah baik dalam beramal dan berilmu.
  • Menghafal Al-Qur’an dan beramal dengannya akan menambah ketinggian derajat. Nabi SAW bersabda:
    إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهذَا اْلِكتَابَ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
    “Sesunguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al-Qur’an ini dan merendahkan yang lain” ( HR. Muslim)
  • Menjauhi kesibukan yang menjauhkan dirinya dari memperoleh ilmu secara sempurna.
  • Memperoleh hafalan Al-Qur’an dengan cara talaqqi. Talaqqi adalah memperoleh hafalan dengan cara menyimak langsung dari sang guru [ pengampu al Qur’an] .
  • Waspada terhadap rasa putus asa yang mungkin mneyelimuti hati karena masa panjang yang dilalui untuk menghafal, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ilmu tersebut didapatkan dengan cara belajar” (HR Daruquthni)
  • Membaca tafsir untuk ayat yang sedang dihapal.
  • Mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca dan menghapal.
  • Selalu menjaga waktu untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an: “Sebab Al-Qur’an lebih mudah terlepas dari onta yang ada pada ikatannya”.
  • Membaca Al-Qur’an secara tartil, berdasarkan firman Allah SWT:
    أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا
    “Dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan”.( QS. Al Muzammil: 4)
  • Apabila melewati ayat-ayat rahmat maka ia segera mohon rahmat dan karunia dari Allah, dan jika melewati ayat-ayat azab maka ia segera berlindung kepada Allah darinya, hendaklah ia duduk menghadap kiblat dengan khusyu’, tenang dan berwibawa.
  • Dianjurkan membaca Al-Qur’an secara berurutan, apabila melewati ayat yang mengandung sujud tilawah maka disunnahkan baginya untuk bersujud.
  • Apabila seseorang mengucapkan salam kepadanya saat ia membaca Al-Qur’an maka hendaklah ia menjawab salam, lalu berta’awwudz dan menyempurnakan bacaan.
  • Membaca apa-apa yang telah dihafal pada saat shalat malam, Rasulullah SAW bersabda:
    إِذَا قَامَ صَاحِبُ اْلقُـرْآنِ فَقَرَأَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ذَكَـرَهُ وَإِنْ لَمْ يَقُمْ بِهِ نَسِيَهُ
    Apabila seorang yang belajar Al-Qur’an bangun untuk membaca apa yang dihapalnya pada waktu siang dan malam maka ia pasti mengingatnya, dan jika ia tidak melakukannya niscaya akan dilupakannya”. (HR. Muslim Syarhun Nawawi 6/76, Silsilah Hadits Shahihah 597)
  • Waspada terhadap perbuatan maksiat. Di antara akibatnya adalah terlupanya ilmu dan hapalan.
  • Duduk di hadapan guru layaknya seorang murid, tidak mengangkat suara tanpa kebutuhan, tidak ketawa dan banyak bicara atau tidak menoleh ke kanan dan kiri tanpa kebutuhan.
  • Tidak memperdengarkan bacaan saat hati sang guru sedang sibuk atau bosan…dan bersabar atas kekasaran guru atau keburukan prilakunya. Apabila sang guru berbuat kasar kepadanya maka ia segera meminta maaf.
  • Saat mendatangi majlis gurunya, namun ia tidak melihatnya, hendaklah menunggu dan tetap berdiam di pintu. Dan apabila mendapatkan guru sedang sibuk maka ia minta izin untuk tetap menunggu.
  • Tidak masuk kepada gurunya tanpa minta izin kecuali jika berada pada tempat yang tidak membutuhkan izin, dan janganlah ia mengganggunya dengan terlalu banyak permintaan izin.
  • Merendah dan berakhlaq yang baik terhadap gurunya sekalipun usianya lebih kecil.
  • Selalu bersemangat untuk belajar, tidak puas dengan yang sedikit selama ia mampu berusaha memperoleh yang lebih banyak, dan tidak membebani diri dengan sesuatu yang tidak bisa ditanggung oleh dirinya demi mencegah kebosanan dan hilangnya apa yang telah didapatkan.
  • Bersikap merendah diri kepada orang-orang shaleh, orang-orang baik dan orang-orang miskin.
  • Pembawa dan pelajar Al-Qur’an harus berakhlaq dan berpenampilan yang sempurna, dan menjauhi diri dari segala yang dilarang oleh Al-Qur’an. Ibnu Mas’ud berkata: “Seharusnya bagi pembawa Al-Qur’an dikenal (dengan ibadah) malamnya saat manusia tertidur, dan (ibadah) siangnya saat manusia tidak berpuasa, dengan kesedihannya saat manusia dalam kesenanganya, dengan tangisnya saat manusia ketawa, dengan diamnya saat manusia bicara serampangan, dengan kekhusyu’annya saat manusia berbangga diri, maka seharusnya ia menjadi orang yang suka menangis, sedih, bijaksana, alim, tenang, tidak kasar, lalai, berkata kotor, keras dan bersikap keras” (Al-Adab Al-Syai’iyah 2/301)
  • Menghormati ahlil Qur’an dan tidak menyakiti mereka.
    Demikianlah sejumlah  adab dan akhlaq secara umu dan khusus yang harus kita hiasi diri kita ketika membaca Al Qur’an yang mulia. Dengan menjaga adab dan akhlaq yang mulia kepada kalamullah keberkahan ilmu Al Qur’an dan nilai-nilai kebaikan yang ada di dalamnya akan dapat diraih setiap muslim dan mukmin yang meyakini dan beriman kebenaran Al Qur’an dan semua yang terkandung di dalamnya.