Muqodimah

Membaca al-Quran tidak sama halnya dengan membaca buku atau kitab-kitab lainnya. Dalam membaca al-Quran ada adab-adab yang harus dipatuhi secara mutlak, yakni salah satunya adalah membacanya dengan tartil dan tajwid yang benar.

Fakta bahwa banyak kaum muslimin yang belum membaca al-Quran dengan benar, mengharuskan kita untuk turun ambil bagian mempelajari pembacaan al-Quran itu, karena membaca al-Quran dengan tartil itu adalah perintah Allah sudah ada semenjak ayat AlQuran diturunkan kepada Nabi mulia, Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.

Diantaranya, firman Allah Ta’ala :”Warattilil Quraana tartiilan”. (Dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan/tartil/bertajwid) (QS Al Furqan 32)

Adapun alasan mengapa hukum membaca al-Quran dengan tajwid adalah fardhu ‘ain, Imam Ibnul Jazari mengatakan:

“Membaca (Al-Quran) dengan tajwid hukumnya wajib, barangsiapa yang tidak membacanya dengan tajwid ia berdosa, karena dengan tajwidlah Allah menurunkan Al-Quran, dan dengan demikian pula Al-Quran sampai kepada kita dari-Nya.”

Kita ketahui bersama bahwa jika bacaan Al-Qurannya benar maka langkah untuk menghafalnya dengan benar akan semakin mudah; jadi setelah mendidik masyarakat membaca Al-Quran dengan benar langkah penting berikutnya adalah menanamkan hafalan Al-Quran di dada-dada kaum muslimin sehingga kaum muslimin itu laksana Al Quran yang berjalan di muka bumi, merekalah manusia yang tidak akan sesat di dunia dan tak akan merugi di akhirat. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Abdullah bin Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما : ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنَ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لاَ يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا ، وَلاَ يَشْقَى فِي الآخِرَةِ ، ثُمَّ تَلاَ {فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى}.

“Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti al- Quran, tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat”, kemudian beliau membaca ayat:

{فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى}

“Lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123) (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah).

عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ رضى الله عنه أَنَّهُ قَالَ: ” تَقَرَّبْ مَا اسْتَطَعْتَ، وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَتَقَرَّبَ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ كَلَامِهِ “.

“Khabbab bin Al Arat radhiyallahu ‘anhu berkata: “Beribadah kepada Allah semampumu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan pernah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya dibandingkan (membaca) firman-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).

عَنْ عَبْدِ اللهِ بن مسعود رضى الله عنه ، أنه قَالَ: ” مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ “.

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai al-Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).

وقال وهيب رحمه الله: “نظرنا في هذه الأحاديث والمواعظ فلم نجد شيئًا أرق للقلوب ولا أشد استجلابًا للحزن من قراءة القرآن وتفهمه وتدبره”.

“Berkata Wuhaib rahimahullah: “Kami telah memperhatikan di dalam hadits-hadits dan nasehat ini, maka kami tidak mendapati ada sesuatu yang paling melembutkan hati dan mendatangkan kesedihan dibandingkan bacaan al-Quran, memahami dan mentadabburinya”.

Menghafal al-Quran termasuk ibadah jika dilakuka ikhlas karena Allah dan bukan untuk mengharapkan pujian di dunia. Bahkan salah satu ciri orang yang berilmu menurut standar al-Quran, adalah mereka yang memiliki hafalan al-Quran. Allah berfirman,

بَلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

      Bahkan,al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu..(QS. al-Ankabut: 49).

Sebaik-baik di antara kalian adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya